Tugas-Tugas Mata Kuliah Fotografi Desain

F.STSRD VISI/B.20

 

SEKOLAH TINGGI SENI RUPA DAN DESAIN VISI INDONESIA

Jl. Tamansiswa 150 B Yogyakarta

__________________________________________________________________________

 

SURAT PENUGASAN PEMOTRETAN

 Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama                                       : Nofria Doni Fitri, M. Sn

NIK                                         : 04093094

Dosen Pengampu Mata Kuliah : Fotografi Desain

Program Studi                          : Desain Komunikasi Visual – S 1

Menugaskan mahasiswa peserta Mata Kuliah : .. Fotogafi Desain … Untuk mengerjakan Tugas 1

Pemotretan dengan ketentuan sebagai berikut :

Tema/Judul Tugas                     : Food Kering (makanan Lezat, sehat dan higienish)

Foto menimbulkan hasrat/ keinginan orang untuk mencicipi makanan tersebut.

Lama Pengerjaan                     : 1 (satu) Minggu.

Batas Akhir Pengerjaan Tugas  : 27 September 2014 untuk kelas A

: 29 September 2014 untuk kelas B

Peserta Mata Kuliah                 : Terlampir

Peralatan yang digunakan         : Standar reflektor, color jel, glassblock, table top.

Yogyakarta, 22 September 2014

Dosen Pengampu MK. Fotografi Desain

(Nofria Doni Fiti, M. Sn)

Dibuat Rangkap 2:

  1. Lembar untuk Dosen
  2. Lembar untuk petugas Studio Fotografi

   Catataan : Asisten mahasiswa STSRD yang masih Aktif

Iklan

Silabus Fotografi Desain

SILABUS

Fotografi Desain Tahun Akademik 2014-01

Fakultas/ Institut              : Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Visi Indonesia

Program Studi/Jenjang    : Desain Komunikasi Visual (DKV)/ S1

Mata Kuliah                   : Fotografi Desain

Jumlah SKS / Sem        : 3 (Tiga) SKS / V

Kode Matakuliah : MPK502

Dosen                           : Nofria Doni Fitri, M. Sn

  1. DESKRIPSI MATA KULIAH
 Mata kuliah Fotografi Desain memberikan konsentrasi pada pemotretan benda dan model di studio fotografi. Pemotretan menggunakan kamera DSLR, menggunakan fasilitas pencahayaan flash light yang terukur dan dapat memenuhi kebutuhan pemotretannya. Fotografi Desain melewati tahapan-tahapan perencanaan, pemilihan objek, pemilihan property, menata objek, menentukan ruang ketajaman gambar, menentukan warna cahaya, memberikan sentuhan artistic dengan specia effect dan mengedit hasil pemotretan, serta mencetak karya di atas kertas foto dengan arahan yang jelas.

 KOMPETENSI MATA KULIAH

 Setelah menempuh mata kuliah ini mahasiswa dapat menggunakan kamera DSLR, menggunakan fasilitas pencahayaan flash light dan mengukur cahaya yang dibutuhkannya dalam sebuah pemotretan. Tertib dalam melakukan prosedur pemotretan, teliti memilih objek dan property, kreatif dalam menata objek, serta dapat menentukan ruang ketajaman gambar. Menjadi terlatih cita-rasa artistiknya dalam menentukan warna cahaya. Memiliki keterampilan membuat specia effect sehingga ditangannya objek sederhana dapat menjadi foto yang menarik. Mahasiswa juga terampil mengedit hasil pemotretan, serta mencetak karya di atas kertas foto mempersiapkan save file yang siap cetak.

STRATEGI PERKULIAHAN

 Model Pembelajaran melalui:

  1. Pertemuan di kelas                              2. Ceramah dan Diskusi
  2. Praktek/demo pemotretan Penugasan
  3. Presentasi

Strategi Pembelajaran

  1. Tatap Muka

Metode tatap muka langsung di kelas secara berhadapan untuk menyampaikan materi Fotografi Desain dengan berpedoman pada modul ajar. Melakukan diskusi dan tanya jawab secara aktif dengan mahasiswa. Memperlihatkan contoh-contoh karya fotografi desain yang baik.

  1. Non Tatap Muka

Metode non tatap muka, mahasiswa diwajibkan untuk belajar dengan cara mencari referensi sebagai tambahan materi sesuai dengan pokok bahasan.

  1. Media / Alat Bantu Pembelajaran

Kegiatan Belajar Mengajar dibantu melalui :

  1. Komputer                  3. Kamera DSLR            5. Contoh foto dalam multy media presentation
  2. White board              4. Handout (referensi)

REFERENSI / SUMBER BAHAN

 WAJIB :

  1. Buselle, Michael, Digital Photography, David & Charles, London, 2002
  2. Chris Gatcum, The Beginners Photography Guide. The Ultimate Step-by-Step Manual for Getting The Must From
  3. Child John, Essential Skills, Photographic Lighting, Focal Press Oxford Auckland Boston Johannesburg Melbourn, 1999
  4. Andreas, Principles of Composition in Photography, London,1973
  5. Freeman, Michael, Mastering Digital Photography, 2013
  6. Freeman, Michael, Basic Photography (Guide Book), USA, 2004
  7. Goodman, Masters of Photography River Golden, Hongkong. 2013
  8. Hedgecoes, John, Introductory Photography Course, Reed International Book Ltd, London, 1994
  9. Still Life Photography (the light) USA, 1999
  10. Studio Lighting, Brook Intstitute. 1996
  11. Lister, Martin, The Photographic Image in Digital Culture, 1995
  12. Routledge, London and New York. National Georaphic, National Geographic Image Collection. Washington D.C, 2013
  13. ANJURAN :
  14. Feininger, Andreas, The Creative Photographer, Prentice-Hall Inc Englewood Clifft, USA
  15. Darwis Triadi, Andreas, The Secret Lighting, 1996
  16. Ian Farrell, Complete Guide to Digital Photography, Quersus Rosenblum, Naomi (1984), A World History of Photography, Abbeville Press, New York.
  17. Your Digital Camera, London, 2014

 SKENARIO PERKULIAHAN

TM Kompetensi Dasar Materi Pokok Strategi Sumber
I

 

 

Mahasiswa memahami orientasi dan model perkuliahan dalam satu semeter.

Mengetahui prinsip dasar fotografi desain.

Kesepakatan kontrak kuliah, pemahaman tentang peralatan. Pengenalan prinsip memotret. Fotografi desain dan tujuan-tujuan pemotretan. Membacakan kontrak kuliah dan membuat kesepakatan bersama dalam mentaati aturan kuliah.

Perkenalan singkat tentang studio equipment. tujuan pemotretan (konsep) plus minusnya.

Feinenger. Andreas,1973

 

Studio Lighting, Brook Intstitute. 1996

II

 

 

Mampu :

  • Memahami objek bertekstur, (makanan kering)
  • Menentukan arah cahaya
  • Menentukan ruang tajam.
  • Penataan objek
Mengamati objek foto. (Makanan bertekstur)

Konsep Foto

Analisa Objek

Menentukan arah sinar. Penggunaan diafragma.

Kiat-kiat :

Memberikan contoh obyek

menyerap cahaya,

cara menentukan pencahayaan

dan komposisi yang baik

merancang konsep foto untuk mencapai tujuan pemotretan,

Memberikan kiat-kiat memotret guna membangkitkan selera dan membuat makanan berkesan higienish

Feinenger. Andreas, ,1973
III Merancang konsep pemotretan sendiri

Menentukan jenis pencahayaan dan menggunakannya.

Konsep foto

Lighting untuk benda bertekstur.

prinsip menyusun objek

Diskusi Konsep foto

Menganalisa cahaya dan mengamati efeknya.

Komposisi yang dinamis dan kesan dimensi yang baik.

Tugas 1 : memotret makanan kering.

Freeman, Michael, 2004

Goodman. 2013

IV Mampu menilai kelebihan dan kekurangan pada foto dan efek-efek yang ditimbulkan oleh lighting. Evaluasi hasil pemotretan makanan kering (bertekstur)

Diskusi membahas hasil karya mahasiswa

Freeman, Michael, 2004

Goodman. 2013

V Mampu membuat efek-efek kesegaran dari butiran air. Water Drop

Lighting untuk butiran air.

Cara membuat efek butiran..

  1. dari sprayer
  2. dari madu
  3. spray clear
Demo membuat efek butiran air pada berbagai permukaan benda.

Pengaturan cahaya yang tepat

Tugas 2: membuat efek butiran air/embun

Buselle, Michael

2002

Child John,

1999

 

VI

 

Mampu menilai kelebihan dan kekurangan pada foto dan efek-efek yang ditimbulkan oleh lighting dan warna. Efek water drop pada objek yang baik. Evaluasi hasil pemotretan water drop

Diskusi membahas hasil karya mahasiswa.

Menunjukkankelebihan dan kekurangan.

Routledge

2013

Lister, Martin

1995

VII Mampu menghilangkan kesan refleksi yang mengganggu pada small metal object.

Mampu memahami kegunaan doom untuk pemotretan objek yang mengkilat dan memantulkan sinar.

Small Metal Object

Lighting modification

Menganalisa objek dan menentukan sudut pandang.

Demo pemotretan Small metal Object.

 

Diskusi dengan contoh-contoh foto yang berhasil dan foto-foto yang gagal.

 

Tugas 3: memotret small metal object

Goodman,

2013

VIII Mampu menilai kelebihan dan kekurangan pada foto dan efek-efek yang ditimbulkan oleh lighting dan refleksi.

Mampu memotret dengan teknik doom.

Evaluasi hasil pemotretan Small metal Object

Diskusi membahas hasil karya mahasiswa.

Menunjukkan kelebihan dan kekurangan.

Buselle, Michael

2002

Child John,

1999

IX Mampu memotret benda mati terkesan hidup.

Mampu menciptakan komposisi yang dinamis.

Foto Still life (UTS)

Komposisi objek

Lighting untuk objek kuno/ usang

Slide Show foto-foto

dan diskusi, cahaya, warna dan gerakan dapat membuat benda mati terkesan hidup.

Membagikan soal (UTS)

Buselle, Michael

2002

Child John,

1999

 

X

Mampu memotret dengan lighting memusat (terkonsentrasi). Evaluasi hasil pemotretan Still Life (objek kuno/ using) Diskusi membahas hasil karya mahasiswa.

Menunjukkan kelebihan dan kekurangan.

Freeman, Michael, 2004

Goodman. 2013

Child John,

1999

XI

 

Memahami teknik pencahyaan untuk benda-benda transparan, dan memberi warna background dengan color jell (pencahayaan blackglass modifications). Specullar container

 

Memahami obyek foto/benda yang tembus pandang/semi tembus pandang. Berwarna/bening.

Membuat gradasi warna background yang sesuai dengan produk

Demo motret

Penganturan arah jatuhnya cahaya lampu studio ke latar belakang, membuat gradasi warna.

Tugas 4:

memotret objek dengan latar belakang bergradasi. Gradasi mempengaruhi dan yang tidak mempengaruhi warna objek utama.

 

Freeman, Michael, 2004

Child John,

1999

XII Memahami teknik memotret dan penyinaran objek transparan, dan memberi warna background dengan color jell (pencahayaan blackglass modifications). Evaluasi >

Specullar container

Diskusi membahas hasil karya mahasiswa.

Presentasi oleh mahasiswa

Menunjukkan kelebihan dan kekurangan.

Studio Lighting, Brook Intstitute. 1996

 

 

XIII

 

 

 

Mampu menunjukkan citarasa dan kreativitas yang tinggi dalam merasakan cahaya dan warna pada objek-objek transparan.  

Cahaya dan warna

Memotret objek dengan kombinai warna-warni yang artistik.

Demo Pemotretan.

Penugasan :

Momotret objek cahaya dan warna

 

Studio Lighting, Brook Intstitute. 1996

 

XIV Mengetahui dan dapat merasakan karya foto yang artistik dari objek cahaya dan warna. Evaluasi objek cahaya dan warna Diskusi,

Presentasi oleh mahasiswa

Studio Lighting, Brook Intstitute. 1996
 

XV

Mampu menjelaskan hasil karya dengan konsep dan artistik yang dihasilkan.

Ujian Akhir Semester

Presentasi hasil karya print di pigura 12 R glossy

 

 EVALUASI

Nilai akhir diperoleh melalui penilaian komponen-komponen sebagai berikut:

No Komponen Evaluasi Bobot
1 Partisipasi mahsiswa dalam perkuliahan 10 %
2 Tugas/ latihan 40 %
3 Ujian MID semester 25 %
4 Ujian Akhir semester 25 %
Jumlah 100 %

Yogyakarta, 17 Oktober 2014

Pengampu Mata Kuliah

(Nofria Doni Fitri, M. Sn)

Silabus Gambar Bentuk 1

SILABUS

Gambar Bentuk 1 Tahun Akademik 2014-01

Fakultas/ Institut              : Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Visi Indonesia

Program Studi/Jenjang    : Desain Komunikasi Visual (DKV)/ S1

Mata Kuliah/ SKS          : Gambar Bentuk 1/ 3 (tiga) SKS

Semester                       : 1 (satu)

Kode Mata Kuliah           : MKK 101

Dosen                           : Nofria Doni Fitri, M. Sn

  1. DESKRIPSI MATA KULIAH

 

Mata kuliah Gambar Bentuk 1 memberikan konsentrasi pada pengembangan kemampuan skill menggambar di atas bidang dua dimensional. Menggambar bentuk-bentuk yang proporsional mulai dari sketa hingga finishing (rendering) dengan membuat kesan kedalaman/ dimensi objek dengan teknik arsiran yang benar, sehingga gambar terlihat hidup. Mata kuliah ini melalui tahapan; pencermatan terhadap objek, teknik melakukan skalanisasi/ perbandingan, teknik arsir, menciptakan kesan plastis dari objek, serta menggambar kesan bahan pada permukaan benda, seperti; plastik, kain, kayu,batu, kaca dan lain-lain.

 KOMPETENSI MATA KULIAH

 Hardskills yaitu, terampil menggunakan pensil dengan berbagai jenis, cermat dalam mengamati objek, mampu menggambar objek yang proporsional. Mampu menentukan tekanan pada teknik arsir sehingga kesan palastisitas dan volume objek dapat dirasakan. Mampu membuat kesan/efek cahaya pada gambar yang dihasilkannya.

Softskills yaitu, terampil dalam beroleh rasa, dan mengembangkan naluri artistik. Peserta mampu berimajinasi memberikan penambahan pada bentuk-bentuk real, sehingga menjadi bentuk imajinatif yang artistik.

STRATEGI PERKULIAHAN

 

  1. Model Pembelajaran melalui:
  2. Praktek di kelas. Mahasiswa melatih skill dengan praktek menggambar serta memberikan aksentuasi pada gambar objek yang disediakan di kelas/studio dibawah bimbingan langsung dosen pengampu.
  3. Menyiapkan contoh-contoh sebagai referensi (membantu proses menggambar).
  1. Strategi Pembelajaran
  2. Tatap Muka

Penyampaian materi dengan berpedoman pada modul ajar, dilakukan melalui metode tatap muka langsung di kelas dilaksanakan selama 13 kali pertemuan, serta dua kali ujian, di tengah dan di akhir semester. Memperlihatkan contoh-contoh karya hand drawing disiapkan dosen.

  1. Non Tatap Muka

Metode non tatap muka dilakukan dengan cara; mahasiswa diwajibkan untuk belajar dengan mencari referensi sebagai tambahan materi sesuai pokok bahasan. Anjuran untuk aktif menonton pameran karya seni gambar di ruang-ruang publik seni di Yogyakarta. Menggambar langsung objek di di ruang publik serta memberi tugas tambahan untuk diselesaikan mahasiswa di rumah.

  1. Media / Alat Bantu Pembelajaran

Kegiatan Belajar Mengajar dibantu melalui :

  1. Kertas gambar A3                                                           2. Pensil dan alat bantu menggambar
  1.    Contoh gambar di tempel di papan tulis                    4. White board

REFERENSI / SUMBER BAHAN

 WAJIB :

  1. Franks, G, How to Draw and Paint: Still Life in Pencil. Walter Foster Publishing. Inc, 1989.
  2. Franks, G, How to Draw and Paint: Transportation in Pencil. Walter Foster Publishing. Inc, 1990.
  3. De Leon, M. How to Draw and Paint: Introduction to Life Drawing. Walter Foster Publishing. Inc, 1990.
  4. Gelb, Michael, Menjadi Jenius Seperti Leonardo Da Vinci, Gramedia, Jakarta, 2003.
  1. ANJURAN :
  2. Bradshaw, Percy. Wish I Could Draw. The Studio Publications, New York. 1956.
  3. Edward B, Drawing on The Right Side of The Brain; A Jeremy P. Tarcher/Putnam Book; New York. 1988.
  4. Moraz, John, Mastery of Drawing, Richard R Smith Publiser, Inc. New York., 1950.
  5. Simon, H. Teknik Menggambar. Penerbit Effhar, Semarang. 2002.
  6. Tobey, G & Hildeton, N. Delineation: A Resource Book For Architecs and Illustrator. Van Nostrand Reinhold, New York. 1992.
  1. SKENARIO PERKULIAHAN
TM Kompetensi Dasar Materi Pokok Strategi Tugas Mahasiswa
I

 

 

Mahasiswa memahami orientasi perkuliahan, model pembelajaran dalam satu semeter

dan tertib perkuliahn

Kesepakatan kontrak kuliah, Pemahaman alat dan bahan yang digunakan serta teknik menggambar. penilain

(additive dan subtractive)

Membacakan kontrak kuliah dan membuat kesepakatan bersama dalam mentaati aturan kuliah.

Perkenalan alat dan bahan yang digunakan, teknik menggambar.

 

Mendengarkan dan berlatih membuat garis dan bentuk
II

 

 

Mampu :

  • mencermati objek
  • skalanisasi objek
  • menggambar bentuk dasar objek
  • pengembangan bentuk dasar.
  • mengukur skala objek secara proporsional.
Bentuk Dasar :

  • analisa bentuk objek
  • membuat garis, kurva dan bentuk.
  • penambahan dan pengurangan bentuk
  • menentukan arah sinar.
Memberikan contoh macam-macam bentuk dasar objek.

Latihan:

kelenturan tangan membuat garis, menggambar kontur, bentuk dan perspektif objek

teknik arsir dan gelap terang

Menggambar bentuk kubus (additive and subtractive)
III Memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar menggambar bentuk dan melakukan (additive and subtractive) terhadap bentuk tersebut
  • Menggambar bentuk
  • Membuat arsiran
  • Cahaya dan bayangan
  • Cara menyusun objek
Garis, bentuk, arsir.

Perhitungan cahaya yang jatuh ke permukaan objek.

Menyusun objek (dinamis)

Penguasaan bidang gambar.

Menggambar bentuk sisi melengkung (additive and subtractive)
IV Mampu :

Menggambar bentuk objek, kesan tekstur dan permukaan bahan dari batu

  • Menggambar bentuk
  • Membuat arsiran
  • Cahaya dan bayangan yang jatuh pada permukaan objek.

Pengamatan kepekatan tonal pada objek dan menggambarkannya.

Menggambar objek batu dominan, dan kombinasi dengan kayu
V Mampu :

Menggambar bentuk objek berbulu, dan permukaan bahan dari kaca

  • Menggambar bentuk
  • Menggambar tekstur dan teknik arsiran
  • Arah arsiran, kesan yang ditimbulkan.

Membuat zona arsir sendiri.

Kombinasi objek dengan permukaan yang berbeda memoliki unsur; garis, (kawat, benang, kapuk/kapas)

Menggambar Objek berbulu.

benda dari kaca.

 

VI

 

Mampu :

Menggambar bentuk objek, kesan tekstur dan permukaan bahan dari kayu

Menggambar objek, efek / kesan cahaya yang jatuh pada permukaan objek. Tekstur dan teknik arsiran

permukaan benda/ objek bertekstur kasar benda terbuat dari (kayu, batu)

Menggambar benda terbuat dari kayu dominan, dan kombinasi dengan batu
VII Mampu

menggambar objek high reflected /objek mengkilat

mengatur tekanan pensil pada kertas, membuat tonal/ kepekatan arsiran.

Mengamati objek dan pantulan dari permukaan objek licin, teko dll

Menggambar Perkakas dapur yang terbuat dari metal dan mengkilat.
VIII Mampu :

Menggambar bentuk objek, pohon secara detail dan kesan dari jauh

Menggambar objek, efek / kesan cahaya yang jatuh pada permukaan objek. Tekstur dan teknik arsiran Menggambar batang, daun dan pohon

Memperlihatkan contoh gambar pohon

Menggambar pohon
IX Mampu :

Menggambar bentuk objek, kesan tekstur dan permukaan bahan.

Menggambar objek, efek / kesan cahaya yang jatuh pada permukaan objek. Komposisi objek objek kuno / usang

cahaya, membuat benda terkesan hidup.

soal (UTS)
X Mampu:

membuat arsiran

Gelap-terang, kesan lipatan kain.

menggambar tekstur lorek/ belang, dan lipatan kain Arsiran untuk drapery Menggambar buah-buahan / objek di atas lipatan kain/drapery
XI

 

Mampu :

Menggambar bentuk objek, kesan tekstur dan permukaan objek

menggambar bentuk dasar, pengembangan bentuk dasar.

menggambar objek langsung di ruang publik

Menggambar gerobak, becak, dll
XII Mampu :

Menggambar sketsa lingkungan, ruang publik.

Sketsa manusia di ruang publik menggambar objek langsung di ruang publik Menggambar Manusia
XIII Mampu :

Menggambar bentuk objek, kesan tekstur dan permukaan bahan.

Menggambar; Labu, apel, dan kendi, jerigen, wadah oli, dll dengan latar belakang bertekstur.  

Latihan menggambar tingkat lanjut.

Menggambar Labu, apel, dan kendi.
XIV Pengertian pameran

dan manfaat pameran

Persiapan pameran Koordinasi dan mounting karya Mempersiapkan karya siap dipemerkan
 

XV

Mampu :

Mempresentasikan karya dengan baik

Ujian Akhir Semester

Perencanaan pameran

Pameran gang:

The best drawing (A2)

EVALUASI

Nilai akhir diperoleh melalui penilaian komponen-komponen sebagai berikut:

No Komponen Evaluasi Bobot
1 Partisipasi mahsiswa dalam perkuliahan 10 %
2 Tugas/ latihan 40 %
3 Ujian MID semester 25 %
4 Ujian Akhir semester + Pameran 25 %
Jumlah 100 %

Yogyakarta, 17 Oktober 2014

Pengampu Mata Kuliah

( Nofria Doni Fitri, M. Sn )

Representasi Mental dalam Seni Fotografi

Latar Belakang

Penciptaan karya fotografi ini berangkat dari kejenuhan saya pada foto pictorial (picture = Gambar), (real = nyata).Pictorial merupakan gambar yang nyata.Upaya membuat objek menjadi indah berkembang di kalangan penggemar salonfoto, dan di Indonesia sudah berlangsung lebih dari 35 tahun. Komunitas yang mumpuni dari sisi teknis fotografi ini, terbiasa dengan objek-objek pictorial, mereka cenderung memperindah tampilan objek fotonya dengan cahaya, penataan objek dan lain sebagainya. Foto pemandangan yang indah, potret manusia dengan tata cahaya yang sempurna lahir dari komunitas ini.Justru itu kelebihan dari penggemar salonfoto, namun ditinjau dari wacana dan isi foto dapat dikatakan kurang berkembang.

Perkembangan teknologi fotografi mempermudahseorang fotografer menciptakanmereplika alam.Objek yang terdapat di alam berpindah ke atas selembar kertas foto dalam waktu singkat.Teknologi digital photography mempermudah hal tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja.PekerjaanPemotret tidak lebih dari mengkroping objek semata, dan sebagai alat duplikasi, kamera dapat yang memperlihatkan kejelasan dan detailobjeksehingga mudah dikenali.Pada proses identifikasiobjek ini peranan pengalaman pribadi seseorang yang tersambung ke objek tersebut juga ikut menentukan kebernilaian sebuah karya.

Berawal dari rasa jenuh tersebut, di akhir tahun 2010, saya mulai mencari solusi lain yang lebih menyenangkan, dari kebutuhan akan seni yang lebih hakiki. Saya mulai mengutamakan hasil ciptaan (karya seni fotografi) sebagai produk intelektual yang pantas dihargai.Karena karya seni yang punya nilai selalu menawarkan pola pikir dan pola pandang baru yang dapat memberikan pengayaan pada nilai-nilai tertentu.Walau penghargaan tersebut datangnya dari masyarakat/publik seni rupa dan bukan dari ranah seni fotografi. Demi menciptakan tatanan nilai dalam seni fotografi yang diinginkan, maka menghargai sendiri apa yang menjadi buah pemikiran pribadi hukumnya wajib.Persepsi tentang keindahan dan kenikmatantidak lepas dari respon pancaindera, yaitupenglihatan, pendengaran, pencercapan, perabaan, dan penciuman. (Harold H. Titus. Living Issue in Philosophy: An Introductory Textbook, 2nded … 1953, p.360).

Karya seni fotografi yang dipaparkan kali ini berupa ungkapan atas perasaan yang pernah dialami, melalui tahapan-tahapan ;

Pertama.

Munculnya ide pada saat tubuh relaxs sehinggamengisi ruang imajinasi dan khayalan.Berawal dari ketidaksengajaan, pada kurun waktu yang telah lama berlalu, sebuah pengalaman keindahan dan kenikmatan telah membekas kuat di dalam pikiran dan mampu menyentuh semua saraf indra yang ada pada tubuh, terutama mata, karena penglihatan lebih banyak menentukan pencerapan tersebut.

Kedua.

Pikiran berperan menentukan teknis pengerjaan, penggunaan fitur kamera yang dibutuhkan, Objek tidak selalu serta-merta ditemukan tapi sebagian dengan sengaja dikonstruksi/diciptakan. Proses mental oleh diri sendiri, pengolahan data secara mental, Berkaitan dengan pemecahan masalah atau upaya untuk mencapai tujuan. Kesenangan, fantasi, pemuasan hasrat, lamunan hal ini memenuhi syarat sebagai tujuan yang ingin dicapai dalam mental series.

Ketiga,

Perasaan dan dukungan dari ego berperan mempertimbangkan warna, gradasi, letak/komposisi objek.Cahaya yang menciptakan suasana lebih banyak menyentuh perasaan.Rasa turut berperan menentukan wujud akhir dari karya.Kesadaran akanRasakeindahan yang berkembang diarahkan pada elemen visual dari objek untuk kemudian mengkonstruksinya menjadi karya.

Awalnya proses pencarian dilakukan eksplorasi terhadap objek-objek yang punya potensi menggerakkan rasa. Pendapat Immanuel Kant (Jerman) memberikan devenisinya tentang keindahan “that which pleases neither through impression, nor concepts, but which subjective necessity in an immediate, universal, and disinterested way” (Sesuatu yang menyenangkan tidak melalui kesan ataupun konsep, melainkan dengan kemestian yang subjektif dalam cara yang seketika, semesta, dan tidak berkepentingan).

Namun dalam perkembangan selanjutnya, penciptaan karya yang dilakukan penuh dengan unsur kesengajaan dan kesadaran akan kebutuhan seni dan tuntutan untuk mempartikelkan suatu kesan pada situasi yang meninggalkan bekas pada diri saya.

Karya fotografi representasi mentalmerupakan bentuk respon ulang terhadap karya tiga dimensi yang saya ciptakan sebelumnya.Dalam perhelatan dari pameran ke pameran tersebut saya belum menampilkan objek tiga dimensionalnya.Proyeksi tersebut saya arahkan pada pameran tunggal dimana karya objek dan karya fotografi suatu saat akan saling melengkapi.

Dalam proses penciptaan jelas saya berbeda dari penganut Decisive Moment nya Hendri Cartier Bresson.

Persoalan yang dipersoalkan dalam karya fotografi representasi mental adalah:

A. Hakekat Objek di Fotografi

Apakah objek yang terlihat selalu merupakan objek yang sebenarnya bagi fotografer?Objek yang tampak sesungguhnya bukan objek yang sebenarnya, objek tersebut punya khans besar untukberpindah ke subjek (lihat. From object to subject series # 1- 5).Objek tidak menjadi hal yang penting lagi tetapi subjeklah yang mengerakkan evolusi rasa akanke mana.Ketika objek sudah berganti dengan subjek sesungguhnyalahkarya tersebut merupakan cerita, pengalaman dan perasaan-perasaan pribadi yang menggerakkan semua rasa.(lihat. teori objektif dan teori subjektif dalam keindahan yang mengisi perasaan-perasaan yang menyenangkan. (The Liang Gie, Filsafat Keindahan: Pusat Belajar Ilmu Berguna (PUBIB) Yogyakarta, 1996.)

Gagasan bermula dari melihat sesuatu yang tidak jelas, namun situasi pada waktu itu merespon perasaan terhadap objek, objek yang tidak jelas tadi menjadi jelas.

Proses ini bertumpu pada posisi melihat, sedikit menggeser sudut pandang, bias cahaya pun berubah dan menggerakkan rasa.

Rasa inilah sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata lebih tepat diujudkan dengan rupa. Rupa semula melekat pada objek berpindah ke subjek, maka iaberubah menjadi sesuatu yang subjektif.Subjek punya wajah yang tidak mudah dilupakan, dan membekas selalu dalam ingatan. Aktivitas berkarya seni yang dialami punya daya Impact yang kuat terhadap diri pribadi. Subjek yang memotret adalah saya yang sadar akan sesuatu. Kesadaran itu berarti distansi, jarak, non-identitas (Bertens, 2001:95).

Menciptakan objek yang ekspresif, merepresentasi suatu konsep rasa dalam hati dan pikiran.Upaya menganyam pikiran dan rasa, dengan menangkap kualitas abstrak dari objek yang dikonstruksi dari benda-benda seperti :plastisin, silikon, karet, rambut, kapuk, minyak, daging,lemah, batu dan lain sebagainya. (materialtersebut memiliki kualitas visual yang lengkap untuk merekonstrusi mental akan pengalaman terdahulu yang meninggalkan bekas). Sekali lagi, segalanya bermula dari pancaindra.Proses ini disebut kontruktivisme, pendiri aliran ini adalah Vladimir Tatlin (1885-1956), teorinya dipaparkan dalam “Manifesto Realist” (1920) yang menentang ide-ide bahwa seni harus diabadikan pada kegunaannya dalam masyarakat. Pada waktu itu Jerman menentang kehadiran karya-karya yang abstrak.

B. Hakekat point of interest di Fotografi.

Apakah kehadiran center point, focus of interest atau point of interest memang melekat pada objek foto atau perlakuan pemotretnya yang menyebabkan demikian adanya?

 

Point of interest/ point of view titik perhatian atau titik dimana fotografer mengutamakan perhatiannya pada suatu karya seni. Dalam hal ini fotografer/seniman bisa memanfaatkan warna, bentuk, objek, ruang ketajaman atau gelap terang maupun ide cerita /tema yang dijadikan sebagai pusat perhatian.Fotografer punya kebebasan dan keleluasaan menentuka focus of interest.

C. Mempersoakan Fokus di Fotografi.

Benarkah focus yang biasa kita lihat pada sebuah foto benar-benar berada pada objek foto tersebut?

Focus, ketepatan penggunaan titik api lensa menimbulkan objek yang jelas, objek masuk ke ruang tajam lensa kamera, sehingga objek terlihat tajam (sharp).

Pertanyaan seputar ini menimbulkan perdebatan pada diri pemotret untuk diapungkan pada persoalan-persoalan yang akan memicu lahirnya sebuah karya seni fotografi “representasi mental”.Ketika objek sudah berganti menjadi subjek bukankah focus tersebut juga berpindah tempat, dan terletak pada diri fotografernya.

Cahaya (the light) selamanya tidak bisa dilepaskan dari fotografi, karena Cahaya fotografi menjadi ada. Sekarang fotografi bukan”take a picture” tapi “make a picture” proses pembuatan itu ada nilai subjektivitas dan pemotret punya andil yang besar dalam menggunakan teknik untuk menyampaikan makna yang dikonstruksinya.

(Denis Huisman esthetica, 1964), dalam buku, Diksi Rupa Kumpulan Istilah seni rupa,Mikke Susanto, Kanisius, 2002.

Berdasarkan pada hal-hal yang menarik perhatian dan ide yang ingin diungkapkan, pada penciptaan karya seni fotografi ini, saya mendefinisikan sendiri kreteria dan batasan yang akan menjadi koridor karya fotografi seni yang saya ciptakan.

10 Kredo Penciptaan Representasi Mental pada Fotografi Doni Fitri;

  1. warna(color) ; warmgrijs/warm grey, titan gelbbraun (pigmen)
  2. ruang ketajaman ;sempit – pemusatan perhatian.
  3. gradasiwarna/tone; perbedaan antara suatu warna (warmgrijs) dan warna acuan yang sama cerahnya (krominans)
  4. cahaya sempit / luas ; arah cahaya yang tidak mudah ditebak , pantulan cahaya guna menerangi bagian yang diinginkan.
  5. perbesar objek ; penonjolan objek, daya tarik visual (ukuran cetak)
  6. garis– garis (lines) ; unsur terdapat pada objek dan batas antar objek. Garis semu yang terjadi karena lekukan objek.
  7. point of interest ; bagian penting yang mendapat perhatian pandang pertama.
  8. Kesan mengelikan
  9. Kesan menjijikkan
  10. kesan yang menimbulkan pertanyaan serta konotasi lain.

Dari sepuluh kredo karya yang ditentukan di atas, dari sepuluh kriteria di atas, saya menggunakan 7- 9 kredo, dan tidak menjadi persoalan apakah kriteria-kriteria tersebut hadir mendominasi atau minoritas. Apabila saya menggunakan lima standard atau kurang dari lima dalam karya artinyasaya telah menyimpang jauh dari rule yang saya tentukan sendiri. Pemotretan dilakukan dengan cahaya bantuan sinar matahari / studio lighting (cahaya putih), dengan panas warna berkisar 5000 0 – 5500 0 Kelvin, untuk menimbulkan kesan normal.

Untuk menguji keberadaan karya-karya tersebut. Saya berkontribusi dalam kompetisi seni di tingkat Nasional dan Internasional antara lain : Jakarta Art Award, Bandung Contemporary Art Award (BaCAA). Biennale Sumatera I, Biennale Equator Jogja 1 dan 2 ,dan di Monte Carlo.

Rekan penulis senirupa memberikan pendapatnya, bahwa karya objek yang saya siapkan untuk dipotret jauh lebih penting dari karya fotonya. Menurut saya dua-duanya sama pentingnya. Karya fotografi tidak mungkin ada bila karya objeknya tidak ada.Karya objek tetap bisa ditampilkan tanpa karya fotografinya. Alasan lainkarena karya fotografi lebih duluan saya populerkan. Sebagai penanda dan identitas diri fotografi lebih melekat lebih awal.